6 Juli 2023, Nurlin menyaksikan gemuruh ombak yang tak henti dan deru angin yang menerpa kumpulan rumah apung yang menjadi tempat tinggal suku bajo di Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.
Suasana ini mengingatkan Nurlin saat terjebak badai di tengah laut beberapa tahun lalu. Ketika itu, cuaca buruk berujung badai menerpa, saat ia tengah menangkap ikan menggunakan pancing tradisional jenis rawe di laut banda.
“Tiba-tiba hujan datang dengan petir-petirnya, tidak bisa pulang, tidak kelihatan lampu” cerita Nurlin.
Nurlin tidak menyangka bila badai akan datang, padahal ia sudah menggunakan pengetahuannya membaca cuaca melalui tanda-tanda alam. Namun salah prediksi.
“Yang saya rasa itu, sudah itu mungkin hujan petir. Angin barat dengan hujan petir. Saya sempat pingsan itu, saya jatuh dalam perahu. Saya sementara timba air, baru bunyi kayak di atas kepala begitu. Saya tidak sadar, saya sudah di dalam perahu baring,” ucapnya.
Selama enam jam, Nurlin terjebak badai di tengah laut lepas. Pengalaman pahit itu, membuatnya semakin teliti membaca cuaca.

Prakirawan Cuaca BMKG Kendari, Rino Indra Nasir
Tidak hanya mengandalkan pengetahuan melalui tanda-tanda alam yang diwarisi dari nenek moyang, namun dengan melihat prakiraan cuaca dari website BMKG.
“Kadang pinjam hpnya saya punya anak, baru suruh dia untuk buka BMKG di internet, biar tidak salah prediksi cuaca lagi” katanya.
Nurlin mengaku sulitnya membaca cuaca tidak hanya mengancam keselamatan. Tapi juga berdampak pada pendapatannya.
“Cuaca sekarang susah diprediksi”
“Susah juga cari ikan” keluhnya.
Di tahun 2000 awal, kenang Nurlin, berbagai jenis ikan seperti ikan putih hingga ikan kerapu banyak ditemui di daerah pesisir hingga di kolong-kolong rumah. Tangkapan nelayan melimpah, ikan-ikan segar mudah di dapat.
Namun sejak dua tahun terakhir pendapatannya merosot. Dulu Rp 500 ribu per hari bisa ia bawa pulang, kini uang Rp 200 ribu sulit di dapat. Bahkan tak jarang, rawe yang ia pasang di tengah lautan tak mendapatkan hasil.
Selain faktor cuaca yang sulit diprediksi, berkurangnya hasil tangkapan itu menurutnya merupakan dampak adanya nelayan yang menggunakan jaring, sehingga merusak ekosistem laut.
“Sekarang itu banyak jaring yang mengganggu kita memancing, sisa jaring yang tertinggal di dasar laut tidak diambil. Jadi ikan takut lewat karena masih terpasang jaring, apalagi ada ikan yang tinggal tulang”
Seperti halnya Nurlin, Daud nelayan suku bajo di Desa Mekar Samajaya juga merasakan semakin surutnya hasil tangkapan ikan di laut banda. Akibatnya, ia lebih memilih melaut di perairan Sulawesi Tengah.
“Ini cuaca akhir dua tahun ini baru agak berubah, karena memang kalau musim timur itu tidak ada angin lain yang bertiup, timur dengan tenggara saja. Tapi sekarang sudah beda, makanya kita heran juga, tidak bisa kita prediksi. Kita tidak bisa lagi pakai pengetahuan orang-orang tua dulu prediksi cuaca”
“Saya dulu kan waktu SMA itu, satu kali satu minggu saya turun mencari ikan atau memancing cumi. Kadang saya dapat 5 sampai 10 kilogram, tapi sekarang setengah mati. Mungkin kita dapat satu kilogram saja sudah mujur itu” beber Daud.

Perkampungan Bajo, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara
Mekar Samajaya merupakan satu desa di Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. Warga di desa itu mayoritas merupakan suku bajo yang berprofesi sebagai nelayan.
Mereka mewarisi kemampuan membaca cuaca melalui tanda-tanda alam, dan digunakan saat melaut.
Di musim-musim tertentu, seperti musim angin laut timur dan musim angin laut barat pengetahuan itu sangat berguna bagi nelayan. Musim angin laut timur berlangsung sejak Juni hingga September, sedangkan musim angin laut barat berlangsung sejak Desember hingga Maret.
Ia menyebutkan di musim angin laut barat nelayan bisa tidak melaut hingga berminggu-minggu lantaran cuaca buruk.
Bahkan, katanya, dua orang nelayan dari desanya pernah hanyut terbawa arus usai terkena badai di tengah laut. Keduanya hanyut hingga ke Pulau Sagu, Sulawesi Tengah.
“Mereka itu mau pulang habis tangkap ikan, tiba-tiba dihantam badai sampai perahunya terbalik. Dihantam angin barat” bebernya.
Saat itu, saya ikut Nurlin melaut menggunakan perahu kecil bermesin. Musim angin laut timur baru berlangsung.
Nurlin membawa dua gabus besar di perahu, masing-masing berisi alat pancing rawe dan umpan.
Satu buah perahu bermesin tempel 2Tak saya sewa, untuk membawa saya mengikuti perahu yang dikemudikan Nurlin menyusuri pesisir laut Desa Mekar Samajaya menuju laut banda.
Sesekali perahu terguncang dihantam gelombang dalam perjalanan, diikuti angin kencang dan mendung memburu hujan.
“Rawe ini mau pasang di mana?” tanyaku dengan perasaan cemas, usai dihantam gelombang setinggi satu meter lebih.
“Dekat saja, di belakang Pulau Bokori” jawab Nurlin menunjuk lautan lepas di hadapan kami sembari tersenyum.
Bagi Nurlin ombak kecil seperti ini merupakan hal biasa. Tapi bagi saya, ombak setinggi satu meter, di lautan lepas jauh dari daratan merupakan pengalaman yang kurang menyenangkan.
Di tengah perjalanan, Nurlin berdiri di atas perahunya menatap jauh kedepan sambil memperhatikan angin bertiup ke arah mana. Sekitar 100 meter kedepan, ia kemudian mematikan mesin.
“Rawe nya mau dilepas disini?” tanyaku.
“Iya, biar besok pagi tidak terlalu susah kita cari. Soalnya arus agak kuat ini” jawabnya.
Rawe sepanjang 40 meter segera dipersiapkan, umpan yang tadi berada di dalam gabus dikeluarkan dan dikaitkan ke mata pancing. Total sekitar 40 mata pancing yang digunakan.
Setelahnya, ia mulai melepas pelampung sebagai penanda, di susul mata pancing yang sudah dikaitkan umpan dilepasnya ke dalam lautan berarus kuat.
Aktivitas semacam ini sudah di lakoni Nurlin selama puluhan tahun. Profesi nelayan merupakan profesi turun temurun yang diwarisi dari kakek moyangnya.
Meski terkadang pulang dengan tangan hampa, namun ia tetap melaut, karena hanya itu sumber penghidupannya.
Keesokan harinya, saya kembali mengikuti Nurlin turun ke laut untuk mengambil rawe yang ia lepas kemarin.
Pukul 09.00 Wita, kami berangkat menggunakan dua perahu. Kecepatan mesin baling-baling beradu dengan gelombang, menggulung berulang.
Saya sedikit panik saat itu, takut perahu yang saya tumpangi terbalik. Terlebih perahu itu di kemudikan keponakan Nurlin yang masih belasan tahun.
“Aman itu, tidak perlu takut” kata Nurlin pada saya di tengah perjalanan.
Di tengah situasi mencekam di hantam gelombang, Nurlin perlahan mengangkat rawe nya, berharap ikan berukuran besar memakan umpannya.
“Tidak ada isinya” keluh Nurlin.
Secara perlahan, ia menarik rangkaian tali temali yang bercabang ke atas perahunya. Satu per satu umpan yang disematkan kemarin ikut ke permukaan.
“Utuh semua ini umpan, tidak ada ikannya” ucap Nurlin menyeringai.
Nurlin pulang dengan tangan hampa, tak seekor ikan pun berhasil ia bawa pulang.
Pria berusia 42 tahun itu bercerita, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sepenuhnya bergantung pada hasil laut. Namun saat tidak mendapatkan ikan, ia kerap meminjam uang ke sanak saudara atau ke orang tuanya.
“Untuk beli kebutuhan dapur, bekal anak ke sekolah dan bensin. Nanti kalau sudah dapat ikan, baru saya ganti uangnya lagi” ucapnya.
Berbagai suka duka telah ia alami sebagai nelayan di tengah perubahan iklim yang mengancam.
“Dukanya itu, kalau kita pasang rawe, capek. Terus pas paginya saya tarik ternyata tidak ada ikannya. Tapi kalau sukanya, pas saya tarik sudah ada ikan. Habis itu capek hilang, karena sudah yang saya bawa pulang” katanya.
Di waktu-waktu mujur, ia kerap mendapat ikan kakap merah, ikan putih serta ikan kerapu. Hasil tangkapan itu kemudian dijual ke pengepul yang ada di desanya dengan harga Rp 150 ribu per kilogramnya.
“Kalau dapat 7 kilo atau 8 kilo, ya lumayan” ujarnya.
Beberapa tahun terakhir, kata Nurlin, aktivitas nelayan di desanya mulai terganggu dengan kehadiran kapal-kapal tongkang yang melintas di kawasan nelayan mencari ikan di perairan banda.
Bahkan ada nelayan yang nyaris tertabrak tongkang saat mencari ikan.
“Kejadiannya pada saat itu dia mancing dimakan pancingnya dengan ikan, dia sementara menarik ini kapal tugboat ini tidak mau menghindar. Terpaksa dia lari ke depan putus tali, itu pun hampir jadi korban, ikannya lepas talinya putus” cerita Nurlin.
Senada Nurlin, Daud juga mengungkapkan hal serupa. Ia menuturkan kapal-kapal tongkang yang melintas kerap merusak rawe milik nelayan. Terlebih saat malam hari dan minim pencahayaan.
“Memang banyak mengeluh, karena orang biasa pasang itu rawe dengan pelampungnya. Nah biasa itu malah pelampungnya itu paginya sudah tidak didapat, sudah putus karena kapal ini melintas di tempatnya orang pasang rawe” ungkapnya.
Terjadinya perubahan iklim di Sulawesi Tenggara, yang telah mengancam suku bajo, menurut Pakar Kelautan dan Perikanan, Profesor La Ode Muhammad Aslan akibat ulah manusia perusak lingkungan.
Terlebih katanya, kehadiran tambang telah menghilangkan hutan dan menyebabkan pemanasan global.
Menurutnya, tambang mengakibatkan terjadinya pencemaran yang berakibat pada pelepasan zat senyawa-senyawa, termasuk pelepasan karbon di alam yang berdampak pada kerusakan lingkungan.
“Dan ini yang sebenarnya kita hindari, kalau pemerintah sadari bahwa tambang itu tidak semuanya mensejahterakan masyarakat dan malah condong merusak lingkungannya, tolong dibatasi. Ini untuk kasus Sulawesi Tenggara ini tambang didewakan, sementara yang kaya gara-gara tambang siapa, masyarakat pesisir, tidak” ujarnya.
Selain itu, menurutnya, kebijakan pemerintah yang tidak ramah lingkungan turut andil dalam terjadinya perubahan iklim di Sulawesi Tenggara.

Sementara itu, data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Kota Kendari menunjukkan, perubahan iklim sudah terjadi puluhan tahun.
Prakirawan Cuaca BMKG Kendari, Rino Indra Nasir menjelaskan, dalam dua puluh tahun terakhir trend perubahan suhu terus meningkat dan berujung pada pemanasan global dan bencana hidrometeorologi.
Berdasarkan data klimatologi yang dihimpun BMKG Kendari dari 3 titik pengamatan cuaca iklim di Sulawesi Tenggara menunjukkan, untuk pesisir barat mewakili Kolaka raya mengalami peningkatan sebesar 0,5 derajat celcius.
Sedangkan untuk pesisir timur wilayah daratan yang diwakili Kota Kendari serta wilayah kepulauan yang diwakili Kota Baubau mengalami peningkatan sebesar 0,3 derajat celcius.
“Artinya bahwa memang dalam 20 tahun terakhir kita telah mengalami yang namanya istilah crimenya itu global warming atau pemanasan global, yang berdampak terhadap peningkatan potensi bencana hidrometeorologi yang kita rasakan” ungkapnya.
Rino menyebutkan terjadinya pemanasan global disebabkan beberapa faktor, salah satunya akibat lahan pertambangan yang semakin tersebar hampir di seluruh wilayah Sulawesi Tenggara.
Penulis: Randi Ardiansyah
Editor: Zainal Ishaq


Komentar