Wisata

Sinole Di Antara Citra dan Citarasa Tortilla

Sinole Di Antara Citra dan Citarasa Tortilla

Kabarkendari.id Tortilla bukanlah alasan Spanyol datang menguasai Meksiko pada 1519. Namun demi melihat Tortila rasa penasaran orang-orang dari Negeri Matador itu tak bisa disembunyikan. Tortilla adalah ketertarikan yang lain.

Sesungguhnya Tortilla hanyalah kudapan lokal Meksiko yang amat digemari warga setempat. Ia memiliki bentuk yang amat menyerupai Omelet (telur dadar) yang telah awam di Spanyol kala itu.

Terdorong oleh rasa penasaran, mereka lantas mengubah bahan dasar Tortilla dari Jagung menjadi Gandum. Tak disangka inovasi ini menghasilkan citarasa Tortilla yang berbeda. Sekaligus membuat Tortilla lebih identik dengan Spanyol. Tortilla dengan cepat menyebar ke berbagai penjuru dunia.

Saat rombongan bangsa Spanyol yang dipimpin Sebastian d’Cano tiba di Indonesia pada tahun 1921, diduga telah adapula penganan lokal penduduk Maluku yang menyerupai Tortilla. Namanya Sinole. Penganan ini terbuat dari bahan dasar Sagu. Pun bentuknya mirip omelet.

Sinole dikenal di beberapa daerah penghasil tepung sagu seperti Papua, Maluku dan Sulawesi. Tetapi Spanyol tak ambil pusing. Mereka lebih tertarik dengan rempah-rempah Maluku.

Mondoe yang Mengering di Bawah Bayang Tambang

Terasing di Negeri Sendiri

Saat ini Sinole masih bisa ditemukan pada beberapa daerah penghasil sagu di timur Indonesia. Namun keberadaannya kurang terkenal, juga kurang diminati.

Salah satu penyebabnya adalah proses pengolahan tepung sagu di daerah-daerah tersebut umumnya masih tradisional. Umumnya sari pati sagu yang bersumber dari bongkahan-bongkahan batangnya diperoleh dari proses yang belum higienis.

Akibatnya citra hasil olahannya seperti Sinole menjadi kurang diminati. Pengolahan sagu dengan cara seperti ini menyebabkan Sagu dan hasil olahannya seperti terasing di negeri sendiri.

Pengolahan Sagu

Hal ini diakui oleh Samsuddin, warga Desa Labela Kecamatan Besulutu Kabupaten Konawe. Meski warga di desanya tak bisa dipisahkan dari makanan berbahan sagu, namun kebanyakan masih malu mengakui.

Jaelani : Hutan Wisata Pinus Samparona Baubau Harus Dijaga Bersama

“Orang-orang di sini masih malu ditahu makan sagu. Padahal setiap hari rata-rata orang Tolaki (suku asli daerah Konawe) pasti makan sagu,” aku Samsuddin.

Di Kecamatan Besulutu terdapat sedikitnya 40 hektar lahan sagu yang tumbuh secara alami. Tanaman yang tumbuh di daerah rawa ini idealnya memasuki masa panen saat berusia 8 sampai 10 tahun.

“Pohon sagu berusia 8 sampai 10 tahun mampu menghasilkan 200 Kilogram Tepung. Cukup untuk dikonsumsi selama tiga bulan setiap rumah tangga. Biasanya kami olah menjadi Sinonggi dan Sinole,” urainya.

Pengetahuan membuat Sinonggi dan Sinole diperoleh secara turun-temurun. Sayangnya Sinole amat jarang dijumpai di meja jajanan kuliner. Akibatnya, meski potensi tanaman sagu di daerah ini berlimpah namun minim nilai ekonomis. Penyebabnya, selain alasan peroses pengolahan yang tidak higienis, juga tak ada inovasi.

Sumber Pangan Alternatif

Menurut data Food and Agriculture Organization (FAO) of the United Nations, pada 2017, satu dari sembilan orang di dunia tidak memiliki cukup pangan untuk dikonsumsi. Di Asia sendiri, sebanyak 520 juta penduduk mengalami kekurangan gizi. Dan 20 juta diantaranya diperkirakan berada di Indonesia.

Sulawesi Tenggara sendiri merupakan salah satu lumbung Sagu di Indonesia. Luasan tanaman sagu di Kabupaten Konawe dan Konawe Selatan mencapai 5000 hektar. Atas alasan itu badan PBB ini berkomitmen untuk memanfaatkan sagu agar memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

Sebagai bagian dari upaya global, Badan Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-bangsa (FAO) melalui kerjasama dengan Pemerintah Indonesia berusaha mewujudkan keragaman pangan di dunia. Sulawesi Tenggara terpilih sebagai pilot project.

Kerjasama ini diharapkan mengurangi ketergantungan atas sumber karbohidrat umumnya (biji-bijian, beras dan jagung) dengan mengambil manfaat dari sumberdaya lokal. Sagu menjadi pilihan utama.

“FAO memandang ini sebagai investasi di Indonesia untuk dunia. Sagu adalah produk yang unik karena memiliki nilai kesehatan yang tinggi. Ini juga dapat menjadi usaha ekonomi yang berkelanjutan,” kata Mark Smulders, Kepala Perwakilan FAO di Indonesia saat berbicara di hadapan puluhan petani sagu Konawe akhir Desember 2017 lalu.

Lebih Higienis

Untuk membuktikan komitmennya, kata Mark, FAO telah mendirikan sebuah pabrik tepung sagu di Desa Labela, Kecamatan Besulutu, Kabupaten Konawe. Mark menegaskan pabrik ini sebagai yang pertama di dunia.

Unit pemrosesan sagu moderen yang dikelola para petani lokal ini menggunakan mesin pemarut batang sagu. Sumber air yang digunakan juga bersih. Sementara kolam proses tepung basah dibangun terpisah. Butuh waktu empat jam untuk memproses sebuah batang sagu.

Food and Agriculture Organization (FAO) of the United Nations

“Proses ini menekankan upaya peningkatan pemrosesan yang higienis dan ramah lingkungan. Limbah dari kulit batang sagu dimanfaatkan untuk memproduksi arang briket. Sementara limbah ampas sagu dimanfaatkan sebagai sumber bio gas atau ethanol,” kata Mark.

Tepung sagu yang dihasilkan pabrik ini selanjutnya di kirim ke Kota Kendari sebelum diolah menjadi beberapa penganan (termasuk sinole) yang siap dijual ke supermarket. Tepung yang dihasilkan di klaim lebih bersih dan higienis.

Harapannya, Sinole tidak lagi hanya sekedar menjadi bayang-bayang Tortilla. Dengan adanya komitmen yang kuat dari FAO, Pemerintah RI dan para petani, rasanya tak perlu campur tangan Spanyol untuk mengangkat citra dan citarasa Sinole.

Penulis: Zainal Ishaq

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *