Ekonomi Uncategorized

Kuatnya Pengaruh Kopi, Kini Jadi Komoditas Unggulan Sultra

seorang barista tengah meracik kopi arabica di sebuah warung kopi di bilangan saranani kota kendari

Kopi tak hanya menghadirkan aroma yang menggiurkan para penikmatnya. Bisnis Kopi juga menjanjikan laba bagi yang menggelutinya. Maka tak heran bila warung kopi kini menjamur di sejumlah kota di Indonesia. Tak terkecuali di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara.

Sejatinya kopi memiliki aroma yang hampir sama. Tapi soal citarasa itu tergantung pada selera masing-masing penikmatnya. Ada yang menyukai robusta. Tapi tidak sedikit juga yang memilih arabika. Atau malah campuran keduanya.

“Kalau saya memang pakai kopi jenis robusta, karena wangi. Tapi kadang saya campur juga dengan arabika, karena arabika lebih kuat rasanya,” ungkap Abu Hasim alias Acil, Barista sebuah warung kopi di bilangan jalan Saranani, Kota Kendari.

 

Kepala BRMP Tinjau Gudang Bulog Kolaka Timur, Pastikan Stok Pangan Aman

Menurut Acil, perpaduan antara robusta dan arabika akan melahirkan cita rasa yang nikmat. Dalam sehari, warkop tempatnya bekerja bisa menghabiskan 2 hingga 3 liter kopi.

Tak heran bila pangsa pasar kopi, kini mulai dilirik petani di Sultra. Dinas Perkebunan Sultra mencatat, sejak 2020 tanaman kopi sudah tersebar di berbagai daerah dengan total luasan mencapai 8.421 hektar. Jenisnya masih didominasi Robusta Coffea Conephora.

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sultra, belakangan juga memiliki kawasan Kebun Percobaan (PK) tanaman kopi robusta, yang terletak di kecamatan Onembute, kabupaten Konawe Selatan. BPTP Sultra menanam 125 bibit kopi jenis robusta yang diambil dari kabupaten Kolaka.

Kepala Kebun Percobaan, BPTP Sultra, Imran menjelaskan, bibit kopi berumur dua bulan dengan tinggi 40 hingga 50 cm itu, ditanam pada sisi tengah di antara puluhan pohon rambutan. Penanaman ini sebagai upaya memperbanyak koleksi pertanaman sekaligus pemanfaatan lahan kosong.

“Bibitnya berasal dari Kolaka, tapi kita semaikan di kebun percobaan yang ada di Onimbute. Kita juga memasang pelapah kelapa agar bibit kopi ini terlindungi dari sinar matahari langsung juga gangguan hewan,” ungkapnya.

BRMP Sultra Kawal Tanam Padi Modern 100 Hektar di Kolaka Timur, Target Produksi 10 Ton per Hektar

Mengikuti jejak BPTP, Imran mengaku, beberapa petani di kecamatan Angata, Konawe Selatan juga sudah mulai menanam kopi. Lahan yang sebelumnya di tanami kakao, diubah menjadi kebun kopi. Masyarakat, katanya, nampaknya mulai sadar komoditas ini punya peluang yang baik dengan budidaya yang mudah.

“Petani kopi di sana berinisiatif sendiri, tapi ada juga sebagian bantuan dari Dinas Perkebunan Provinsi Sultra dan sebagian bibitnya dari sesama petani,” ucapnya.

Imran menjelaskan, selain karena jenis kopi robusta sangat populer, kondisi iklim di Sulawesi Tenggara juga sangat mendukung dalam pengembangan tanaman kopi tersebut.

Tenaga Kontrak KP Onembute, Suldin mengaku, sejak ditanam pada pertengahan Mei 2021, bibit kopi robusta tumbuh dengan baik di kawasan tersebut.

“Tepat sebulan, alhamdulillah tumbuhnya baik, tapi ada juga 5 pohon mati. Tapi secara keseluruhan pertumbuhannya normal berkat dukungan cuaca karena sedang musim penghujan, kondisi bibit yang ditanam juga bisa bertahan,” bebernya.

Dengan suksesnya percobaan ini, sambungnya, pihak BPTP Sultra berencana akan menambah bibit untuk ditanam di Kebun Percobaan Onembute. Hal itu, juga sebagai upaya pemanfaatan lahan yang masih kosong agar bisa segera dipenuhi pohon kopi.

Kedepan, kawasan pertanaman juga dapat dijadikan kawasan eko agro wisata, yang mana kelompok atau perorangan memiliki kesempatan untuk menikmati dan mengadopsi teknologi pertanamannya.

Kepala Dinas Pertanian Kota Kendari, St. Ganef mengungkapkan, di tahun 2020, tercatat Sulawesi Tenggara memiliki 8421 hektare lahan yang ditanami kopi jenis robusta. Perkebunan kopi itu tersebar di berbagai daerah, seperti, Kolaka, Kendari dan Konawe Selatan.

“Kalau secara keseluruhan di Sultra, ada sekira 8421 hektare pada tahun 2020. Di tahun yang sama, Kota Kendari, juga memiliki 66 hektare lahan kopi jenis robusta,” singkatnya.

Data dari Dinas Pertanian Kota Kendari, luasan perkebunan kopi robusta menempati urutan ke-enam se Sulawesi Tenggara. Luas perkebunan kopi robusta, bahkan mengungguli tanaman seperti kelapa sawit yang hanya memiliki perkebunan seluas 7.624 hektare, juga sagu dengan luas lahan sekira 4.398 hektare.

Meski masih di bawah luasan perkebunan tanaman tradisional Sultra seperti Mete dan Coklat, tapi potensi perkebunan kopi cukup menjanjikan. Jika merujuk data di atas, menunjukkan bahwa pengaruh kopi begitu kuat. Setidaknya dalam lima tahun terakhir telah masuk jajaran sepuluh besar komoditas unggulan perkebunan Sultra.

Penulis: Randi Ardiansyah
Editor: Zainal Ishaq

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *