Lingkungan

Banjir Kendari Rendam 797 Rumah, 3.517 Jiwa Terdampak di Tujuh Kecamatan

Warga dievakuasi menggunakan perahu saat banjir merendam permukiman di Kota Kendari
Tim evakuasi membantu warga melintasi banjir yang merendam permukiman di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, akibat hujan deras berkepanjangan.

Kabar KendariBanjir Kendari akibat hujan berkepanjangan sejak Kamis (7/5/2026) hingga Minggu (10/5/2026) merendam ratusan rumah warga di tujuh kecamatan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kendari mencatat sebanyak 797 rumah terdampak dengan total 3.517 jiwa ikut merasakan dampak bencana tersebut.

Hingga Minggu tengah malam, hujan masih mengguyur wilayah Kota Kendari dengan intensitas ringan. Genangan air terjadi di sejumlah kawasan permukiman dan menyebabkan aktivitas warga lumpuh.

Kepala BPBD Kota Kendari, Cornelius Padang, mengatakan tingginya curah hujan dalam beberapa hari terakhir menjadi penyebab utama meluasnya banjir di berbagai titik.

“Sebagian besar wilayah terdampak berada di kawasan dataran rendah dan bantaran sungai,” kata Cornelius dalam laporan yang ditandatangani Senin (11/5/2026).

Di Kecamatan Kambu, Jalan Mangkerey menjadi salah satu lokasi terdampak paling parah. Sebanyak 100 rumah terendam dengan sekitar 900 jiwa terdampak. Sementara di Lorong Hidayatullah, banjir merendam 76 rumah dan berdampak pada 300 jiwa.

Banjir Kendari Jadi Alarm Krisis Lingkungan, WALHI Soroti Tata Ruang dan Alih Fungsi Lahan

Kondisi serupa juga terjadi di Kecamatan Poasia. Di Jalan Kedondong RT 24 RW 08, Kelurahan Andonohu, sebanyak 85 rumah terendam banjir dengan 225 warga terdampak.

Sementara di Kecamatan Baruga, banjir meluas di Kelurahan Lepo-Lepo. BPBD mencatat sebanyak 69 rumah di RT 03 terdampak dengan 224 jiwa, sedangkan di RT 14 sebanyak 34 rumah terendam dan berdampak pada 176 jiwa.

Tak hanya permukiman warga, banjir juga merendam sekitar 50 hektare sawah milik warga. Kondisi tersebut membuat petani terancam gagal panen akibat genangan air dan lumpur.

Warga Kelurahan Kambu, Siti Rahma, mengaku air masuk ke rumahnya sejak dini hari sehingga ia terpaksa mengungsi bersama anak-anaknya.

“Kami sangat takut karena air naik cepat sekali. Perabotan banyak yang rusak, dan yang paling sedih ada anak kecil meninggal. Kami berharap pemerintah benar-benar serius menangani banjir ini, jangan hanya datang saat kejadian,” ujarnya.

Massa Demo Kejati Sultra Tuntut Penuntasan Kasus Korupsi Jembatan Cirauci II

Ia berharap pemerintah segera melakukan normalisasi sungai, perbaikan drainase, dan penertiban kawasan yang memicu luapan air.

“Setiap hujan deras kami selalu waswas. Kami butuh solusi permanen agar banjir tidak terus berulang,” katanya.

Keluhan serupa disampaikan Arman, warga Kelurahan Anduonohu, Kecamatan Poasia. Menurutnya, banjir di Kendari terus terjadi hampir setiap tahun tanpa penanganan menyeluruh.

“Baru sehari setelah kota ini merayakan hari jadi dengan meriah, warga justru dihadapkan pada bencana banjir,” ujarnya.

Arman berharap pemerintah mulai menyiapkan langkah jangka panjang agar banjir tidak terus terulang setiap musim hujan.

“Sudah seharusnya pemerintah mencari langkah konkret untuk mencegahnya, bukan sekadar menangani setelah air meluap,” katanya.

Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran bersama Wakil Wali Kota Kendari, Sudirman turun langsung meninjau sejumlah lokasi banjir di Kecamatan Kendari Barat, Baruga, dan Poasia pada Minggu (10/5/2026).

Siska mengatakan Pemerintah Kota Kendari telah berkoordinasi dengan Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan untuk memastikan kebutuhan warga terdampak segera terpenuhi, mulai dari makanan siap saji hingga layanan kesehatan.

“Kami turun langsung untuk memastikan kondisi warga dan memastikan penanganan di lapangan berjalan cepat,” kata Siska.

Menurutnya, beberapa titik banjir membutuhkan penanganan lintas sektor yang melibatkan pemerintah kota, provinsi, hingga pemerintah pusat.

Salah satu lokasi yang ditinjau berada di Jalan Bungasi, Kelurahan Anduonohu, Kecamatan Poasia. Pemerintah memantau proses pengangkutan sampah yang menyumbat drainase dan diduga menjadi salah satu penyebab banjir.

Pemerintah Kota Kendari juga berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai Sulawesi IV untuk memeriksa kondisi Kali Wanggu yang kerap meluap saat musim hujan.

“Kami sudah berkoordinasi dengan Balai karena sungai ini menjadi kewenangan pemerintah pusat,” ujar Siska.

Sementara itu, Cornelius Padang mengimbau masyarakat yang tinggal di bantaran sungai dan kawasan rawan banjir agar tetap waspada terhadap potensi hujan lebat susulan.

“Kami meminta warga tetap tenang, tetapi siaga. Jika debit air kembali meningkat, segera evakuasi ke tempat yang lebih aman,” katanya.

Redaksi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *