Lingkungan

Banjir Kendari Jadi Alarm Krisis Lingkungan, WALHI Soroti Tata Ruang dan Alih Fungsi Lahan

Direktur WALHI Sultra Andi Rahman memberikan keterangan soal banjir Kendari dan krisis lingkungan.
Direktur WALHI Sultra, Andi Rahman, menyampaikan pernyataan terkait banjir yang kembali melanda Kota Kendari. Foto: Ist

Kabar KendariBanjir Kendari kembali melanda sejumlah wilayah di ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) setelah hujan mengguyur selama beberapa hari terakhir. Sedikitnya tujuh kecamatan terendam banjir sejak Sabtu, 9 Mei 2026.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kendari mencatat sebanyak 797 rumah terdampak banjir, dengan total 3.517 jiwa ikut merasakan dampaknya.

Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran, mengatakan pemerintah akan memberi perhatian serius terhadap persoalan banjir yang terus berulang tersebut. Ia mengaku telah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Sultra hingga pemerintah pusat untuk mencari solusi jangka panjang.

“Kami akan terus berada di lapangan untuk membantu warga serta mencari solusi jangka panjang agar banjir tidak terus berulang saat hujan turun,” kata Siska saat meninjau lokasi banjir, Minggu, 10 Mei 2026.

Banjir yang kembali terjadi di Kota Kendari dinilai tidak bisa lagi dipandang semata sebagai dampak cuaca ekstrem. Persoalan lingkungan dan tata ruang disebut menjadi faktor penting yang memperparah kondisi banjir.

Massa Demo Kejati Sultra Tuntut Penuntasan Kasus Korupsi Jembatan Cirauci II

Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sultra, Andi Rachman, menilai banjir besar yang melanda Kendari menunjukkan daya dukung dan daya tampung ekologis kota semakin menurun.

“Jauh sebelum banjir besar terjadi, kami telah berulang kali mengingatkan pemerintah kota bahwa tantangan perubahan iklim dan kerusakan lingkungan akan semakin berat. Sayangnya, berbagai persoalan ekologis belum dijadikan peringatan serius dalam arah pembangunan kota,” ujar Andi, Senin, 11 Mei 2026.

Menurutnya, sedimentasi daerah aliran sungai (DAS), pembangunan perumahan, serta alih fungsi ruang yang tidak memperhatikan daya dukung lingkungan telah memperbesar risiko banjir di Kota Kendari.

Ia menjelaskan, ruang resapan air terus berkurang sementara kawasan permukiman semakin meluas. Kondisi tersebut membuat air hujan sulit terserap dan akhirnya memicu genangan hingga banjir di berbagai titik.

Karena itu, WALHI Sultra mendesak Pemerintah Kota Kendari segera mengambil langkah konkret, mulai dari pemetaan wilayah rawan bencana hingga evaluasi pembangunan yang dinilai mengabaikan keselamatan ekologis.

Banjir Kendari Rendam 797 Rumah, 3.517 Jiwa Terdampak di Tujuh Kecamatan

“Banjir hari ini adalah alarm krisis lingkungan dan tata ruang yang tidak boleh terus diabaikan,” tegasnya.

Redaksi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *