Anwal Ramadhan (29) bukanlah kartunis. Tapi keinginannya untuk menghadirkan media pembelajaran alternatif mengantarkannya mengenal seni gambar ini. Anwal menghadirkan cara berbeda pada siswanya untuk belajar Bahasa Indonesia yakni melalui karikatur.
โSaya coba mengembangkan media pembelajaran dalam bentuk karikatur untukย meningkatkan minat belajar siswa SMP,โ kata Anwal, Rabu 15 Juni 2021.
Guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Pertama Satu Atap Komala Pagi Wakatobi ini tak mau hanya karena jenuh dengan media pembelajaran yang ada selama ini, membuat anak didiknya jenuh dan meninggalkan sekolah. Apalagi selama pandemi Covid-19 belajar tatap muka ditiadakan.
Berbekal gambar-gambar bawaan aplikasi laptop ia memulai usahanya membuat media pembelajaran. Perlu waktu berbulan-bulan untuk mengumpulkan gambar-gambar karikatur dan menyatukannya dengan narasi. Isu lingkungan adalah tema kegemarannya.
โKartun lebih menarik dan mudah dipahami para siswa dibanding monolog. karikatur untukย meningkatkan minat belajar siswa,โ alasannya.
Melalui karikatur, Anwal menyisipkan pelajaran seperti kaidah penggunaan huruf, penempatan tanda baca hingga contoh kata baku dan tidak baku.
โBoleh dikata siswa hanya memahami bahasa Indonesia lima puluh persen, masih banyak yang tidak menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan di sekolahโ ungkapnya.
Banyak siswanya yang masih menggunakan pelafalan dan pengucapan yang campur aduk antara bahasa Indonesia-bahasa gaul serapan-bahasa daerah. Anwal menjelaskan, kurangnya metode kreatif dalam proses belajar mengajar membuat siswa tidak tertarik untuh memahami bahasa Indonesia.
โBahasa Indonesia kan akan digunakan untuk urusan mengarang, surat menyurat dan administrasi di lingkungan kerja nantiโ kata Anwal mengungkapkan kekhawatiran.
Persoalan lain yang dihadapi Anwal adalah selama masa pandemi Covid-19 beberapa siswa di Desa Komala, Kecamatan Wangi-wangi, Kabupaten Wakatobi, kini telah bekerja sebagai buruh atau petani. Ia sanksi setelah mereka mulai mendapat penghasilan masih akan kembali ke sekolah.
โMasalah pendidikan masih menjadi masalah klasik disini,โ katanya.
Lapangan Kerja
Lapangan pekerjaan terbesar penduduk Wakatobi berasal dari sektor pertanian sebesar 20.238 pekerja, disusul sektor jasa 20.324 pekerja, dan sektor manufaktur sebesar 7.835 pekerja.
Jika ditinjau dari aspek pendidikan, angkatan kerja di Kabupaten Wakatobi sebagian besar berpendidikan SD ke bawah. Hal ini menunjukkan kualitas angkatan kerja di Kabupaten Wakatobi dapat dikatakan masih rendah, sebagaimana tertulis dalam Buku Wakatobi Dalam Angka 2021 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik setempat.
Dari jumlah total 111.402 penduduk, terdapat 10.137 anak masuk dalam kelompok usia remaja 15 sampai 19 tahun, yang jika dirata-ratakan menempati usia mengenyam pendidikan tingkat SMP-SMA.
Dalam persentase penduduk berumur 15 tahun yang menganggur menurut pendidikan tertinggi yang ditamatkan di Kabupaten Wakatobi pada tahun 2020; mayoritas pengangguran didominasi jenjang pendidikan SD (Sekolah Dasar) ke bawah sebanyak 43,84 persen.
Menurut Anwal, remaja-remaja yang berpotensi putus sekolah penting memahami dan menulis Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal itu adalah salah satu kunci sukses untuk menapaki karir.
โSaya pikir anak yang berumur anak remaja belasan tahun lebih baik menggunakan media abstrak, audio visual dan praktek. Mereka akan lebih aktif di kelasโ paparnya.
Penulis : Riza Salman
Editor : Zainal Ishaq


Komentar