Pendidikan

Nur Alam Buka Suara soal Unsultra dan Isu Dana Rp12 Miliar

Nur Alam saat podcast membahas Unsultra dan isu dana Rp12 miliar di Studio Citas Kendari
Ketua Pembina Yayasan Unsultra, Nur Alam, saat menjadi narasumber dalam podcast di Studio Citas membahas dinamika Unsultra dan isu dugaan dana Rp12 miliar di Kendari, Kamis (14/5/2026). Foto: Ist

Kabar Kendari – Ketua Pembina Yayasan Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra), Nur Alam, akhirnya buka suara terkait dinamika internal kampus hingga isu dugaan penyelewengan dana Rp12 miliar yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial.

Pernyataan tersebut disampaikan Nur Alam saat menjadi narasumber dalam sebuah podcast di Studio Citas, Kamis (14/5/2026). Dalam kesempatan itu, ia membahas sejarah perjalanan Unsultra, pengembangan pendidikan tinggi di Sulawesi Tenggara, hingga klarifikasi soal tudingan korupsi dana bantuan pemerintah daerah.

Menurut Nur Alam, pembangunan pendidikan merupakan fondasi utama dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan kemajuan daerah. Ia mencontohkan Jepang yang mampu bangkit pasca tragedi Hiroshima dan Nagasaki dengan menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama pembangunan bangsa.

“Pembangunan kembali bangsa dimulai dari pendidikan. Karena itu perguruan tinggi memiliki peran sangat penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia,” katanya.

Ia menjelaskan, Unsultra memiliki sejarah panjang sejak berdiri pada tahun 1967 dan terus mengalami perubahan mengikuti perkembangan regulasi pendidikan nasional, termasuk penyesuaian terhadap Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional dan Undang-Undang Yayasan.

Bank Sultra Salurkan 300 Paket Sembako untuk Korban Banjir di Kendari

Menurutnya, pembentukan Yayasan Konsorsium Pendidikan pada 2010 menjadi bagian dari langkah penyelamatan sekaligus pembenahan tata kelola kampus agar sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

“Tujuan utamanya membuka akses pendidikan bagi generasi muda Sulawesi Tenggara karena daya tampung perguruan tinggi negeri sangat terbatas,” ujarnya.

Saat ini, jumlah mahasiswa Unsultra disebut hampir mencapai 5.000 orang dengan jumlah pendaftar sekitar 1.800 mahasiswa setiap tahun.

Nur Alam Sebut Dinamika Kampus Hal yang Wajar

Dalam podcast tersebut, Nur Alam juga menyinggung dinamika yang terjadi di lingkungan Unsultra. Ia menilai tantangan perguruan tinggi dipengaruhi berbagai faktor, baik internal maupun eksternal.

Mulai dari regulasi pemerintah, pergantian kepemimpinan daerah, keterbatasan tenaga pengajar, hingga pembangunan infrastruktur kampus menjadi tantangan yang harus dihadapi perguruan tinggi swasta.

Polisi Kantongi Identitas Terduga Pelaku Pencabulan ART di Rumah Bupati Konsel

Meski begitu, ia optimistis Unsultra dapat terus berkembang apabila seluruh civitas akademika memiliki semangat kebersamaan dan konsisten membangun institusi pendidikan.

“Kita harus optimistis. Banyak universitas besar di Indonesia yang awalnya berkembang dari kondisi sederhana, tetapi karena konsisten akhirnya menjadi institusi besar dan dipercaya masyarakat,” katanya.

Bantah Dugaan Penyelewengan Dana Rp12 Miliar

Terkait isu dugaan penyelewengan dana Rp12 miliar yang menyeret nama Unsultra, Nur Alam menegaskan seluruh informasi harus dilihat secara objektif berdasarkan fakta hukum dan data yang valid.

Ia meminta masyarakat tidak langsung mempercayai tuduhan yang berkembang di media sosial tanpa adanya audit resmi maupun proses hukum yang jelas.

“Kalau ada tuduhan ataupun isu mengenai penyelewengan dana, tentu semuanya harus dibuktikan melalui mekanisme audit dan proses hukum yang berlaku,” tegasnya.

Nur Alam menjelaskan, bantuan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara kepada Unsultra pada 2015 merupakan bentuk dukungan pemerintah daerah terhadap penyelenggaraan pendidikan tinggi swasta.

Ia menyebut program tersebut memiliki dasar hukum yang jelas dan tercatat sebagai belanja modal pemerintah daerah, termasuk aset bangunan yang hingga kini masih digunakan untuk kegiatan akademik program magister dan doktoral.

“Seluruh mekanismenya berjalan sesuai aturan dan prosedur penganggaran pemerintah,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa dukungan pemerintah daerah semasa dirinya menjabat gubernur tidak hanya diberikan kepada Unsultra, tetapi juga kepada berbagai lembaga pendidikan dan institusi lainnya.

Menurut Nur Alam, tudingan korupsi yang diarahkan kepadanya lebih banyak dibangun berdasarkan opini dan tidak memahami mekanisme penganggaran daerah yang melibatkan TAPD, DPRD, hingga konsultasi dengan Kementerian Dalam Negeri sebelum ditetapkan dalam APBD.

“Tidak ada istilah anggaran siluman sebagaimana yang dituduhkan,” ujarnya.

Unsultra Targetkan Akreditasi Unggul

Selain membahas polemik yang berkembang, Nur Alam juga memaparkan target besar Unsultra ke depan, yakni meningkatkan status akreditasi kampus menjadi “Unggul”.

Salah satu langkah yang disiapkan ialah pemberian beasiswa program doktoral atau S3 bagi dosen internal kampus guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia di lingkungan perguruan tinggi.

“Tahun ini kami menargetkan sekitar 30 dosen mendapatkan beasiswa program S3. Ini investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas kampus,” ungkapnya.

Ia berharap Unsultra dapat terus berkembang menjadi perguruan tinggi swasta unggulan di Sulawesi Tenggara dan melahirkan lulusan yang mampu berkontribusi terhadap pembangunan daerah.

Sebagai penutup, Nur Alam mengajak seluruh civitas akademika menjaga rasa memiliki terhadap kampus dan terus membangun pendidikan dengan semangat kebersamaan.

“Kerja keras tidak akan pernah mengkhianati hasil. Kerja yang tulus dan ikhlas juga tidak akan pernah mengkhianati kualitas,” pungkasnya.

Redaksi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *