Pendidikan Inspirasi

Guru di Konawe Antar Jemput Murid Disabilitas Pakai Motor

Guru di Konawe Antar Jemput Murid Disabilitas Pakai Motor
Muriati saat mengantar beberapa muridnya untuk bersekolah. Foto : Istimewa

Kabarkendari.id – Jalan berdebu dan berlubang di tengah hamparan perkebunan kelapa sawit, tanpa lelah disusuri oleh Muriati, seorang guru asal SLBN 2 Konawe untuk menjemput empat muridnya penyandang disabilitas agar tidak putus sekolah.

Terletak di Kelurahan andabia, Kecamatan Anggaberi, Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara, Muriati rutin mengendarai motor bebek jenis Jupiter Z 125 cc tahun 2012 sejak pagi buta untuk menjemput ke empat muridnya yang bernama Dita (kelas 4 SD), Faris (Kelas 3 SD), Ardikal (Kelas 6 SD), dan Eprianto (Kelas 3 SMP).

“Saya rutin mengantar mulai Senin hingga Jum’at dengan mengangkut hingga empat murid sekaligus,” jelas Muriati saat dihubungi via seluer oleh phak kabarkendari.id, Minggu, (17/03/2024).

Wanita yang berumur 43 tahun ini mengaku aktifitas antar jemput murid ini dilakukannya sejak 2013 silam. Ia merasa iba dengan kodisi para anak disabilitas dilingkungannya kerap dipandang sebelah mata termaksud hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

Berstatus sebagai guru honorer sejak 11 tahun silam tidak menyurutkan semangat Muriati untuk semampunya menjemput para murid agar dapat bersekolah. Ia menambahkan banyak orang tua siswa yang tidak mau berusaha lebih untuk menjamin pendidikan anaknya. “Mungkin karena disabilitas, jadi para orang tua berpikir untuk apa disekolahkan,” jelasnya.

Hasil SNBP 2026 di Universitas Halu Oleo Diumumkan 31 Maret Pukul 16.00 WITA

Seiring berjalannya waktu, Muriati saat ini secara tidak langsung bertanggung jawab mengantar empat murid sekaligus dalam satu motor tiap pergi dan pulang sekolah. “Jadi kalau saya berhalangan untuk pergi sekolah mereka juga dengan otomatis tidak pergi sekolah juga,” tambahnya.

Murid SLBN 2 Konawe

Murid SLBN 2 Konawe

Lanjutnya, untuk semua biaya yang timbul mulai dari bahan bakar, perawatan kendaraan itu semua ditanggung pribadi olehnya. “Kadang materi tidak dipikirkan lagi ketika melihat mereka dapat konsisten mengenyam pendidikan dibangku sekolahan,” jelasnya.

Tidak jarang pula Muriati mendapat cibiran dari lingkungan sekitarnya yang mengatakan usahanya untuk mengantar para mirud disabilitas bersekolah itu sia-sia. “Sering saya mendapat perlakukan seperti itu. Tapi mungkin karena saya sudah menikmati jadi bahagia ketika melihat pertumbuhan mereka, jadi hal seperti itu tidak lagi menjadi masalah,” terangnya.

Muriati membeberkan, siswa yang tiap hari dia antar itu merupakan siswa yang berprestasi. “Dita yang menyandang tuna netra pernah menjadi juara saat mengikuti lomba nyanyi tingkat provinsi yang diadakan oleh Dinas Pendidikan tahun lalu,” jelasnya lagi.

“Jujur, untuk mengantar empat murid sekaligus dalam satu motor itu cukup menyulitkan, apalagi ditambah kondisi jalan yang berlubang membuat perjalanan sedikit jauh lebih berat. Saya berharap pemerintah mungkin bisa mempertuimbangkan untuk memberikan kendaraan khusus untuk antar jemput murid khususnya di wilayah ini,” harapnya.

Rektor Unsultra Tegaskan Dugaan Pungli Terjadi di Masa Lalu, Siap Audit Keuangan 12 Tahun

Ia mengaku, bantuan tersebut sangat dibutuhkan oleh para siswa yang sebagian besar orang tuanya tidak perduli terhadap aktifitas pendidikan anak disabilitas.

Sementara itu Kepala Sekolal SLBN 2 Konawe, Yafsin mngaku, sangat mengapresiasi dedikasi serta perjuangan gurunya yang tidak mengharapkan imbalan dalam melakukan aktifitas tersebut.

“Kami sangat menghargai dedikasi serta perjuangan yang dilakukan para guru tersebut. Dari pihak sekolah pun berupaya semaksimal mungkin untuk membantu meski jumlahnya masih jauh dari kata layak,” jelasnya.

Senada dengan Muriati, Yafsin juga berharap pihak pemerintah dapat mengalokasikan kendaraan untuk antar jemput murid tiap harinya. “Letak sekolah yang lumayan jauh serta medan yang cukup sulit membuat tidak sedikit siswa enggan berangkat sekolah sendiri,” tambahnya.

Yafsin berharap, para murid tidak sampai putus sekolah, dan bisa mengenyam pendidikan secara baik. “Kami ingin mereka menjadi anak-anak yang berpendidikan, untuk masa depan mereka yang lebih baik,” tuturnya.

 

Redaksi: Yuli Z.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement