Kendari, Kabarkendari.id – Jumlah korban dugaan keracunan massal di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, terus bertambah. Hingga Senin, (12/1/2026), tercatat sebanyak 63 orang mendapatkan penanganan medis dan berada dalam pengawasan tenaga kesehatan di sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan di wilayah tersebut.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Kendari, AKP Welliwanto Malau, mengatakan puluhan korban dirawat di beberapa rumah sakit dan puskesmas. Rinciannya, 10 orang dirawat di RS Bhayangkara Kendari, 16 orang di RSUD Kota Kendari, 10 orang di Puskesmas Puuwatu, serta 9 orang di RS Antero Hamra. Selain itu, 18 korban lainnya menjalani perawatan di lingkungan sebuah pesantren dengan pendampingan tenaga medis.
“Total korban saat ini berjumlah 63 orang. Ada penambahan dari data sebelumnya dan semuanya telah mendapatkan penanganan,” kata Welliwanto saat ditemui di Kendari, Senin.
Menurut Welliwanto, seluruh korban mendapat penanganan intensif dari tim medis masing-masing fasilitas kesehatan. Proses perawatan juga didukung oleh tim kedokteran dan kesehatan kepolisian (Dokpol) untuk memastikan kondisi korban tetap stabil dan mencegah dampak lanjutan akibat dugaan keracunan.
Sementara itu, kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap penyebab pasti kejadian tersebut. Polisi telah mengumpulkan keterangan dari sejumlah korban dan saksi, serta menelusuri sumber makanan yang diduga menjadi pemicu gangguan kesehatan.
Berdasarkan keterangan awal para korban, sebagian besar mengaku tidak mengonsumsi makanan pada pagi maupun siang hari sebelum mengalami gejala. Mereka menyebut terakhir kali menyantap makanan secara bersamaan pada Sabtu malam, 10 Januari 2026, saat menghadiri sebuah kegiatan di salah satu sekolah agama di Kota Kendari.
Dengan adanya kesamaan waktu konsumsi dan jenis makanan yang disantap, dugaan sementara mengarah pada makanan yang disajikan dalam kegiatan tersebut. Namun, Welliwanto menegaskan bahwa kesimpulan akhir masih menunggu hasil penyelidikan dan pemeriksaan lebih lanjut.
“Kami masih mendalami penyebabnya. Hasil penyelidikan akan kami sampaikan secara terbuka kepada masyarakat,” ujarnya.
Peristiwa dugaan keracunan massal ini kembali menyoroti pentingnya pengawasan terhadap keamanan pangan, terutama pada kegiatan yang melibatkan konsumsi makanan dalam jumlah besar. Aparat kepolisian, tenaga medis, dan instansi terkait diharapkan dapat bersinergi untuk mempercepat penanganan korban sekaligus memastikan penyebab kejadian terungkap secara tuntas.
Redaksi


Komentar