Nasional

Kepala Basarnas Paparkan Model Tata Kelola Tim USAR untuk Penuhi Standar PBB

Kepala Basarnas Mohammad Syafii saat memaparkan disertasi tentang model tata kelola strategis kompetensi tim Urban Search and Rescue (USAR) dalam sidang penelaahan Program Doktor Administrasi Publik di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Jumat (6/11/2026).

KABARKENDARI, JAKARTA – Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Marsekal Madya TNI, Mohammad Syafii memaparkan model tata kelola strategis kompetensi tim Urban Search and Rescue (USAR), dalam sidang penelaahan naskah disertasi Program Doktor Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Jumat (6/11/2026).

Disertasi berjudul Model Tata Kelola Strategis Kompetensi Tim USAR Multi-Stakeholder Berbasis INSARAG Guidelines di Indonesia (Model OC-USAR), membahas penguatan kompetensi dan koordinasi tim pencarian dan pertolongan lintas kementerian dan lembaga.

Model ini juga diarahkan untuk mendukung target sertifikasi tim Indonesia Search and Rescue (INASAR) pada kategori Heavy Class INSARAG Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2028.

“Model OC-USAR ini kami rumuskan untuk menjawab tantangan operasi SAR di Indonesia yang bersifat multi-hazard dan multi-stakeholder. Tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri, harus terorkestrasi dalam satu sistem yang sesuai standar INSARAG,” ujar Syafii.

Dalam penelitiannya, Syafii mengidentifikasi empat persoalan utama dalam tata kelola USAR di Indonesia. Persoalan tersebut meliputi kesenjangan kompetensi antarinstansi, dualisme komando operasional antara Search Mission Coordinator (SMC) dan Incident Command System (ICS), fragmentasi tata kelola, serta keterbatasan kapabilitas di 45 wilayah dalam proses akreditasi nasional.

Bank Sultra Salurkan CSR Rp635 Juta di Empat Kabupaten Sultra, Ini Rinciannya

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Syafii merumuskan Model OC-USAR (Orchestrated Complementarity USAR Indonesia). Model ini memiliki lima pilar, yakni penguatan regulasi dan otoritas, pembagian kompetensi, koordinasi operasional, pemantauan dan basis data kompetensi melalui INASAR-CIS, serta keberlanjutan dan replikasi tim USAR nasional.

“Target kita jelas, INASAR harus bisa tersertifikasi Heavy Class INSARAG pada 2028. Ini bukan sekadar soal sertifikat, tapi soal pengakuan dunia bahwa Indonesia mampu memimpin operasi USAR kelas berat,” tegasnya.

Sidang penelaahan disertasi Kepala Basarnas Mohammad Syafii berlangsung di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Model OC-USAR dirancang untuk mengintegrasikan kemampuan 11 kementerian dan lembaga dalam penyelenggaraan operasi pencarian dan pertolongan. Integrasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan koordinasi dan respons tim USAR Indonesia sesuai pedoman INSARAG.

Syafii menyampaikan hasil penelitian tersebut diharapkan dapat menjadi rekomendasi kebijakan bagi pemerintah dalam memperkuat tata kelola dan kapasitas tim USAR nasional.

“Dengan lima pilar mulai dari penguatan regulasi, pembagian kompetensi, koordinasi operasional, hingga INASAR-CIS sebagai basis data kompetensi, kita integrasikan kekuatan 11 kementerian dan lembaga dalam satu komando operasi yang efektif,” pungkasnya.

Lapas Perempuan Kendari Gelar Simulasi Evakuasi, Libatkan 40 Warga Binaan

Redaksi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *