KABAR KENDARI โ Sebanyak 55 santri Pondok Pesantren Al Askar 03 di Kelurahan Watubangga, Kecamatan Baruga, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), mengalami gejala yang diduga akibat keracunan setelah mengonsumsi makanan bergizi gratis (MBG), Jumat (18/9/2026).
Kapolsek Baruga AKP Ld. Hasmil Hamzah membenarkan adanya kejadian tersebut. Para santri mulai mengalami sejumlah keluhan setelah menyantap menu MBG yang dibagikan di lingkungan pondok pesantren.
Berdasarkan keterangan yang diperoleh kepolisian dari Koordinator Badan Gizi Nasional (BGN) wilayah Kota Kendari, Fadilah Rizka, makanan tersebut berasal dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Watubangga di Jalan Kapten Pierre Tendean, Kelurahan Watubangga.
Dapur SPPG tersebut dikelola oleh Kepala SPPG Sabdi Rasyid.
Fadilah menjelaskan, makanan MBG selesai dimasak sekitar pukul 10.00 Wita. Sebanyak 841 porsi kemudian dikirim dan tiba di Pondok Pesantren Al Askar 03 sekitar pukul 13.10 Wita.
Persoalan kemudian muncul pada waktu konsumsi makanan. Pada label kemasan tercantum batas maksimal konsumsi hingga pukul 13.30 Wita. Sementara makanan tersebut baru disajikan kepada para santri sekitar pukul 13.30 Wita.
โPada label makanan tercantum batas maksimal konsumsi hingga pukul 13.30 Wita. Namun para santri mengonsumsi makanan tersebut sekitar pukul 13.30 Wita, atau di waktu yang sama,โ kata Fadilah kepada Kisahan.id.
Setelah mengonsumsi makanan, sejumlah santri putri yang kembali ke pondok putri mulai mengalami gejala berupa mual dan pusing.
Sekitar pukul 14.30 Wita, sejumlah santri putri dan putra kemudian dibawa ke sejumlah fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan medis.
Hingga Jumat malam, sebanyak 55 santri tercatat telah mendapatkan perawatan.
Sebanyak 20 santri perempuan dirawat di RS Dewi Sartika, 27 santri menjalani perawatan di Puskesmas Lepo-Lepo, dan delapan santri lainnya dirawat di Puskesmas Ranomeeto.
Dari jumlah tersebut, empat santri telah diperbolehkan pulang. Sementara santri lainnya masih menjalani perawatan dan pemantauan medis, termasuk mendapatkan infus.
Sementara itu, untuk mengetahui penyebab pasti munculnya gejala yang dialami para santri, sampel menu MBG telah dibawa ke Laboratorium Provinsi Sulawesi Tenggara untuk dilakukan pemeriksaan.
Polisi dan pihak terkait masih melakukan pendataan serta pemantauan terhadap kondisi para santri.
โJumlah korban masih berpotensi bertambah karena proses pendataan dan pemantauan terhadap santri masih berlangsung,โ pungkasnya.
Redaksi


Komentar